Halau-Halau (1.901 mdpl), 2 kali dalam sebulan.

Naik gunung 2 kali sebulan, biasa aja keleeusss.

iya keleeusss, buat elu yang emang dari lahir udah pake sepatu treking trus manggul keril 120 liter begitu “mbrojol” sih ga papa, mau nanjak 3 kali sehari tiap habis makan juga ga bakal ada yang ngelarang. Tapi ngga buat gue. Gue yang kesahariannya penuh dengan kehidupan sederhana, ga pernah cape-cape, bahkan waktu lunch di warung sebelah, jangankan nyuci piring, beresin meja aja gue ga boleh sama ibu warung, gimana ga nikmat coba hidup gue… buahahaha….

balik ke liburan ala lebaran gue. Yup, naik gunung kali ini efek samping dari naik semeru yang belum kesampaian. Pelajaran kala itu yang gue petik (lu pikir buah kersen, main petik aje) kalo naik gunung itu perlu persiapan yang matang, kondisi yang fit, sama kejiwaan yang stabil. Yang terakhir itu penting banget, kebayang ga kalo ada orang yang lagi galau tingkat mahabarata gegara ditinggal kawin sama mantannya, terus sampe sekarang doi belum bisa move on, move up, apalagi push up. Saking galaunya dia sering berpuisi “biarlah kawah bromo menelan raga dan perasaan ini, hilang bersama angin dan uap belerang yang dengan bebasnya mengudara (kaya RRI yang selalu mengudara). Doi lu ajakin ke gn. bromo. Bisa jadi doi segera merealisasikan puisinya dengan langsung nyemplung ke kawah. Gimana ga berabe coba, ya paling positifnya lu bisa nebeng claim asuransi doi sih… gkgkgkgk…

Balik ke pembahasan nanjak gu yang dari tadi belum ada dibahas sedikitpun. Kaya orang pada umumnya, udah mainstream banget kalo lebaran itu musti mudik. Nah, berhubung kampung halaman (kampung sih tetep, tapi halamannya udah jadi lapangan futsal, #glekkk…) abah itu deket sama puncak tertinggi kalsel, Gn. Halau-Halau (1.901 mdpl) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Nah, setelah hari lebaran pertama dan kedua gue rapel buat silaturahmi, Hari rabu pagi gue meluncur menuju Loksado, yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sebenarnya tujuan satu-satunya pas liburan kali ini adalah air terjun haratai. Setelah puas melalui hutan yang sudah modern (emang ada?) sampailah gue di tujuan. Paraaaaaahhh… ini air terjun apa pasar malam??? Rame gilaaa…

DSC_0065 DSC_0071 - Copy

Puas dengan perjalanan yang cukup ekstrim bagi matic gue, perut pun lapar, biasa lah, namanya juga jalan-jalan itu satu paket sama makan-makan, buahahaha. nasi putih, oseng-oseng kacang panjang, ikan gabus masak kecap dan teh es, ditambah lagi kondisi perut yang memang lapar bingitsss, pastinya semua terasa nikmat…

DSC_0118Seharian bertualang di daerah loksado, gue lanjut perjalanan ke Kabupaten berikutnya, Hulu Sungai Tengah. Nginep satu malem di rumah Robby, temen gue. Gratis tentunya, makan malam, tidur dan sarapan free itu emang sesuatu banget. Trus malemnya gue dapet sms dari temen yang intinya doi baru dateng dari air terjun di desa Kiyu. Sontak gue kaget, desa Kiyu itu ibarat Ranu Pane nya kalo mau ke Semeru dan malem itu gue bertekad musti bisa ke Kiyu, ga boleh kalah pokoknya (titik). Malem itu gue ga bisa tidur nyenyak, masih kepikiran sms dari temen gue. Gue kontak balik ga di jawab. Ya udah, gue ngontek temen yang lain dan ga ada yang membuahkan hasil sampai gue ketiduran dengan berbantalkan penasaran.

Lepas sholat subuh, gue kembali nyari info, kebetulan hari ini emang belum ada jadwal. Setelah kontek-kontek an sama senior gue waktu di asrama dulu, dia bilang kalo rombongan adiknya baru berangkat ke Halau-halau. Tidaaakkk, gue kecolongan lagi. Langsung gue minta alamat lengkap sang senior, gue berniat buat silaturahmi dalam rangka lebaran sekalian minta petunjuk jalan buat ke halau-halau dan ini yang gue dapet.

Rifkiauliasandi11.00, gue pamit dari rumah senior, lanjut ke pasar terdekat buat beli logistik seadanya, air mineral 2 botol, biskuit 2 bungkus, korek api, headlamp. Udah itu doang? iya itu doang. dan 11.30 trekking dimulai.

Start 11.30 dengan logistik seadanya. Terasa tiada beban, ya iya lah naek gunung cuma modal dengkul. 1 jam pertama masih bisa haha-hihi, sepanjang jalan diiringi mp3 full musik. Memasuki 2 jam berikutnya udah mulai berasa ne kuping denger detak jantung jukgijakgijukgijakgijuk. Nafsu syahwat minum juga mulai meningkat, tapi berhubung trek yang dilalui masih terbilang bersahabat, gue masih sempat-sempatnya ngerumpi kalo pas break. Setelah 4 jam, tepatnya 15.30 gue nyampe di camp sungai karuh,  di sana gue ketemu sama tim adiknya senior gue yang berangkat selepas sholat subuh tadi. Sepakat break setengah jam, gue tidur dulu lah, lumayan nge carge energi. Lumayan puas istirahat sambil sksd sama 2 tim yang semuanya memilih untuk bermalam di camp ini. Pamit dengan tim lain, perjalanan kami lanjutkan. Begitu menyeberang genangan air, refleks gue menggumam, Ya Salaammm…, melihat tanjakan yang begitu panjang, tinggi dan ujungnya ga keliatan. Kalo si amang di sungai karuh tadi bilang, “parak sampuk dada jalannya” (permukaan jalan yang hampir menyentuk dada karena saking menanjaknya) ternyata tidak meleset, bermodalkan metode nanjak 25.10 (25 langkah, 10 menit istirahat, buahahahak…) akhirnya 18.00 nyampe camp jumantir, setelah ngisi botol minum, gue lanjut perjalanan, sempat kepikiran nge camp disini, tapi berhubung hari masih terang, gue lanjut nanjak 1 jam. 1 jam itu lamaaaaaa, dan akhirnya gue nge camp, yang penting landai, saatnya bangun tenda. TENDA? emang ada? kan tujuannya mau mudik masa bawa tenda. Gilee beneer, nanjak kali ini ga pake tenda, ya akhirnya beginilah kondisi istirahat buat malam ini.

DSC_0187Niatnya sih mau tidur, kan lumayan dari jam 7 malam sampai 4 pagi. 9 Jam istirahat itu udah dari cukup, tapi kalo kondisinya kaya gambar tu apa bisa tidur? Malam jumat pula, speechless lah pokoknya. Tapi kalo ga pernah ngalamin lu ga bisa cerita, dan artinya gue menang satu point dari elu. wuakakakak, tapi karena gue sayang elu, mending ga usah nyoba deh, sengsara beungeut pokoknya, mending bawa peralatan dan prepare yang lengkap deh. Cukup gue yang ngalamin hal kaya gini.

Istirahat yang panjang, tanpa tidur yang nyenyak. Tapi biarpun gitu, gue tetap bersyukur malam sampai subuh itu cuaca sangat bersahabat. Walaupun dingin menyerang bertubi-tubi, langit sepertinya tidak tega menuangkan hujannya pada gue yang kala itu ga bawa tenda. Dengan kondisi udah mendingan subuh itu gue lanjut perjalanan menuju puncak. 2,5 jam perjalanan menuju puncak gue tiba di camp penyaungan, ini merupakan camp terakhir sebelum puncak, dan setelah melewati lokasi ini, gue tau alasannya. Camp penyaungan merupakan tanah landai terakhir selain puncak. Perjalanan semuanya menanjak selama minimal 1 jam. Medan yang ditempuh didominasi bebatuan berlumut yang diselingi akar pepohonan yang menjalar-jalar selalu riang kemari… (ayo tebak lagu apa an). Selain bebatuan licin dan akar yang bisa dipakai buat pegangan, nanjak gunung itu 1 paket dengan jurang. Yup, sepanjang perjalanan menuju puncak gue harus ekstra hati-hati soalnya sempat ciut juga begitu melihat medan yang ditempuh. Tapi puncaknya itu disitu, tinggal dikit, dan gue udah sejauh ini, masa gue nyerah. Akhirnya gue semangat lagi, dan ujian itu datang lagi, sendal gue yang udah setia selama lebih dari 3 tahun harus putus. Yoi, tali sendal ei*ger gue putus. dan itu ketika di perjalanan menuju puncak. Semangat, cuma itu yang ada dipikiran gue, gue cari aja tanaman merambat buat ngiket sendal, yang penting pagi ini harus nyampe puncak, TITIK dan tadaaaaa….
IMG-20140818-WA0016

IMG-20140818-WA0006

IMG-20140818-WA0008

IMG-20140818-WA0018

IMG-20140818-WA0032

gue udah nyampe PUNCAK, iya PUNCAK. 1.901 mdpl. Bagi gue, hal ini merupaka prestasi terbesar, tanpa persiapan, tanpa gear dan pengorbanan sendal putus akhirnya berbuah manis. Tanah landai yang luasnya ga sampe seukuran lapangan futsal, tapi kebahagiaan gue seolah kedengeran sama langit yang seolah hanya setinggi tangan melambai, dan yang paling keren, gue udah nginjak awan. Itu kereeennnn. Mungkin pragraf ini agak berlebihan, apaan sih kerennya sampe puncak yang ga nyampe 2.000 an. Yach, itu kembali pada urusan masing-masing, yang pasti kali ini gue bahagia. Gue pengen genk 12 cm tau kalo gue juga bisa nginjek puncak, paling ngga puncak di tanah gue sendiri. buahahahak…
Kertas mana? Spidol? Papan Tulis? Kapur? Gimana gue mau nulis “salam puncak” buat kalian… gue galau. Gue udah muter di puncak buat nyari fotocopi an mau beli kertas HVS sama spidol, ato ke kelas sebelah buat minta kertas sama pinjem ballpoint nya. Tapi ga ada. huahuahua… Sorry, genks, I’ll be back here soon, se soon-soon nya deh, biar tradisi puncak tetap lestari, wuakakaka,,,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s